Sabtu, 28 Maret 2015

Masalah Pendidikan di Indonesia dan Solusinya

Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan yang “sakit” ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu. Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada.
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang. Pendidikanternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir. Sebab ketika orang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya. Hal yang sering disinyalir ialahpendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai. Dan “siap pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan teknologi. Memperhatikan secara kritis hal tersebut, akan nampak bahwa dalam hal ini manusia dipandang sama seperti bahan atau komponen pendukung industri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan.
Masalah kedua adalah sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Guru sebagai pengisi dan murid sebagai yang diisi. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru.
Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat menindas para murid. Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.
Yang ketiga, dari model pendidikan yang demikian maka manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan. Melainkan justru hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita. Mampukah kita menjadikan lembagapendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya dan situasi masyarakat lain? Dalam hal ini, makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara menjadi sangat relevan untuk direnungkan.
Secara garis besar ada dua solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, yaitu:
1. Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
2. Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.
Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang berSDM tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat.
Banyak sekali faktor yang menjadikan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Factor-faktor yang bersifat teknis diantaranya adalah rendahnya kualitas guru, rendahnya sarana fisik, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Maka disinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan mesyarakat untuk mengatasi segalapermasalahan pendidikan di Indonesia.


Kesimpulan dari permasalahan ini adalah kurang ya kepedulian pemerintah kepada rakyat ini.



http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/10/masalah-pendidikan-di-indonesia-dan-solusinya-615212.html

Ratu Atut dinyatakan tersangka korupsi

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dinyatakan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka 
baru dalam dua kasus dugaan korupsi yakni sengketa Pilkada Kabupaten Lebak serta kasus Pengadaan Alat Kesehatan di Provinsi Banten.
Atut sudah beberapa kali diperiksa penyidik KPK dalam kasus dugaan suap yang menyeret mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar pada sengketa Pemilihan Kepala Daerah Lebak, Banten.
Adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, sudah lebih dahulu dinyatakan sebagai tersangka dalam dugaan suap tersebut.
"Telah ditemukan lebih dari dua alat bukti untuk meningkatkan dan menetapkan status dalam kasus ini," kata Ketua KPK Abraham Samad saat mengumumkan kemajuan kasus ini, Selasa (17/12) siang.
Dalam kasus yang saat ini ditangani KPK, ia dikenai pasal 6 ayat 1a UU Tipikor,juncto pasal 55 ayat 1 KUHP.
"Dalam kasus tersebut tersangka Atut Chosiyah dinyatakan bersama-sama atau turut serta dengan tersangka TCW dalam kasus pemberian terhadap ketua MK Akil Mochtar," tambah Samad.
Sementara untuk kasus Alkes, menurut Samad sudah disepakati para penyidik penetapan Atut sebagai tersangka, "namun masih perlu direkonstruksikan perbuatan serta pasal-pasalnya".

'Dinasti Politik'

Media nasional melalui situs internet ramai menyebut status baru Atut hanya berselang beberapa jam setelah sejak semalam hingga sekitar pukul 07.30 pagi tadi, sekelompok penyidik mendatangi rumah dinas Gubernur Banten di Jalan Cipocok 51, Serang Tangerang.
Penggeledahan menurut KPK dilakukan terkait kasus dugaan suap terhadap Akil Mochtar.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pimpinan KPK perah menyatakan kasus korupsi di Banten bermodus keluarga dimana sanak-saudara Atut dan Wawan memang banyak yang menjadi penguasa di provinsi tersebut.
Wawan sendiri tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan tetapi disebut-sebut mempunyai kewenangan besar dalam menetapkan proyek fisik di berbagai tempat di Banten.
Akibat dugaan kasus korupsi yang melibatkan keluarga besar ini, parlemen dan pemerintah berniat mengubah aturan dalam UU Pilkada yang membatasi keterlibatan sebuah dinasti politik.
Atut dilantik menjadi Gubernur Banten tahun 2005, menggantikan Djoko Munandar yang saat itu ditangkap penyidik juga karena kasus korupsi.

Kesimpulan  saya dari  ratu atut Chosiyah itu tidak memikirkan nasip negara ini ya seperti rakyat miskin itu.


http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/12/131216_ratuatuttsk

Selasa, 06 Januari 2015

SAYA TL AH PERGI

KARYANTA                                                                                                                                                                                                               
Desember, 2013
 SAYANG TLAH PERGI
Hari ini, Kamis, tanggal 12-12-13, aku meluncur di JJLS yang belum sempurna. Sebagian sudah beRstandar nasional sebagian belum. Yang membentuk sambungan lebar dan sempit. Beberapa kendaraan berat yang lewat tidak berani melaju  kencang karena hujan mulai datang. Aku berpapasan dengan beberapa bus pariwisata yang pulang dari Pantai Baron.
Huhf ....! Minggu ini JJLS sangat padat.
Beberapa motor kulampaui untuk cepat-cepat tiba di SMK Tanjungsari tempat aku ngajar pencak silat ... senyum Panji membayangi! ...Ya Allah. Untung tadi nggak ngajak Restu. Gimana aku  jaga dia kalau sekarang hatiku begitu trenyuh ... teringat perjuangan hidup Panji....  sejak kelas dua SMP Panji sudah mengajar Pencak Silat ASAD di Padepokan TROWONO, melaui jalan ini!
 Panji yang baru berumur  lima belas tahun telah bercita-cita besar. Ini aku baca di Diary Panji yang kutemukan di tengah net booknya. Setelah beberapa prestasi yang diraih, seperti juara tiga katagori TGR SD tingkat Kab. Gunungkidul, juara dua katagori TGR SMP tingkat kabupaten dan Juara dua Kejuaraan Remaja Persinas ASAD Pengda DIY, Panji ingin menjadi wasit pencak silat  nasional. Setidaknya sampai  tingkat provinsi untuk megangkat nama PERSINAS ASAD di DIY. Hal yang sudah dipersiapkan antara lain, belajar jurus tunggal baku dengan rincian geraknya, dengan cara melatih teman seusia Panji. Berusaha menghafal jurus regu, latihan tanding, belajar kategori ganda dan sering nonton pertandingan pencak silat. Pertandingan Invitasi Mahasisiwa Nasional bulan Juni  2013 lalu juga ditonton sambil mempelajari berbagai gaya seorang wasit.
Buku-buku peraturan pertandingan, penjurian, perwasitan, kepelatihan menjadi koleksi yang sangat digemari.
 Untuk biaya, Panji sudah mempersiapkan jauh-jauh hari.  Memelihara kambing menjadi pilihan sejak kelas lima SD. Dari seekor kambing betina .. Panji sudah bisa kurban sendiri , beli net book dan print seharga empat juta yang berpatungan dengan Akyun dan Mak Ni. Dari penjualan kambing seharga Rp. 1.700.000,- dan dari uang tabungan Akyun sebesar Rp. 1.300.000,-  kemudian ditambahi uang mamaknya  Rp. 1.000.000,- Sampai Panji meninggal ... jumlah kambingnya masih lima ekor.
‘Duh … le ! hujan seperti ini Restu kau selipkan di bawah kakimu agar  tidak basah, kamu ngajar pencak silat sambil momong! ….Panji, aku bangga padamu! Aku sangat bersyukur dikarunia anak seperti kamu. Dengan kondisi sakit yang tidak pernah diduga. Karena ternyata kanker yang menggerogotimu telah menyerang semua rusukmu yang tidak mungkin diamputasi. Tulangmu bagai ayam potong yang di presto,  kamu  masih beramal solih gotongan kayu di Alas Gedor milik nenek … untuk  sodakoh pembangunan masjid ... Bagi anak seusimu, itu sungguh luar biasa!’
Dengan keangkuan seorang ayah… aku bersikeras membawa Panji pulang dari rumah sakit Nur Hidayah dalam kondisi Oestero Sarcoma stadium lanjut. Sementara Mak Ni bersikukuh melanjutkan rujukan karena memang kelas rumah sakit ini tidak diperkenankan menangani penyakit Panji. Kami dibingungkan dengan dua pendapat yang berbeda … Tapi justru aku menyerahkan pilihan pada Panji. …. Kejam memang. Dalam kondisi terengah-engah karena penyebaran penyakitnya sudah sampai paru- paru aku meminta pendapat Panji … untuk pulang atau melanjutkan rujukan. … Panjipun bingung di tengah kebingunganku.
Namun diluar dugaan Panji justru menanyakan bagaimana dia sholat dan menjaga kesucian seandainya kembali opnam di rumah sakit,
“Pak,gimanasholatsayananikalaudirumahsakit?”                                   “…..ya seperti di rumah sakit lainnya, untuk menjaga kesucian sangat sulit. Berbeda kalau dirumah. Sewaktu-waktu kena najis bisa segera disucikan.”                                                    
“ Tapi kalau aku dirumah …. Tidak pakai oksigen? Aku tidak kuat …,” jelas Panji terengah-engah seperti tadi malam ketika berjuang mengirup udara dengan  paru sesak dan terbatasnya persediaan oksigen.                                                                                                            “Kalau kamu di rumah, bapak sanggup mencarikan  tabung oksigen yang besar. Sekarang Lek Maryono sudah mengisikan  tabung yang kecil,”                     “Sekaranggimana, le?”                                                                                                         Panji masih terengah-engah. Pengasapan yang dilakukan dokter tadi tidak berarti  banyak. Kondisi paru-parunya…..bahkan dahaknya sudah mulai memerah.                                              
“Aku kan, anakmu, to pak? Aku manut bapak dan mamak. …. Tapi kalau bapak dan mamak binggung? Aku juga bingung,”                                                                                                            Aku terharu melihat keterbataan Panji melawan sakitnya.                                                                     “Sementara aku sudah termotifasi dengan omongan bapak. Dari pada  untuk kemo aku memilih biaya itu disodakohkan ke pembangunan masjid. Seandainya nanti aku mati … aku punya amal jariyah yang mengalir.  …. aku  memilih kemo kepada Allah.”                                                  “Justru itu, le,” potongku sambil memegang jemarinya. Mataku mulai memerah …                      Kutatap Mak Ni semakin berkaca-kaca. Sementara Lek Tinah yang sejak tadi  tegar mulai menitikkan air mata,                                                                                                                                       “Bapak menghendaki pulang, sementara mamak meneruskan rujukan. Kami berbeda pendapat padahal bapak dan mamak memikirkan orang yang sama, kamu!  Makanya bapak minta pendapatmu…,”                                                                                                                           “Aku bingung, dong pak?”                                                                                                                  “Kalau aku berbeda pendapat dengan mamak? ….aku dosa enggak?”                                             “Le,…. Ini musyawarah. Kamu tidak harus sama dengan mamak. Artinya kalau pendapatmu tidak sama dengan mamak itu kamu tidak dosa. …. Karena ini rembugan, le.”            
“Aku masih bingung, pak?”                                                                                                                “Aku nurut kalian saja.”                                                                                                                “Itulah le, masalahnya. Bapak ingin membawamu pulang sementara mamak terus ke RS Sardjito,” jelasmu  bingung….                                                            
            Aku terus mengulur waktu walau suster sudah beberapa kali memanggil karena kamar di RS  Sadjito yang dirujuk telah dipersiapkan,                                                                                         “Begini, le….Sekarang kamu berdoa lima menit pada Allah untuk memohon ilham. Mak Ni juga. Nanti kita padukan.”                                                                                                            
            Kulihat Mak Ni setuju. Panji juga. Dan gemuruh pasien lain yang datang mencampuri kekusyukan yang ada. ….  Ya .. Allah, beri yang terbaik untuk kami. Perlihatkan mukjizatmu untuk kesembuhan Panji tanpa menjalani kemo terapi. Semua berasal dariMU dan kuserahkan semuanya padaMU …..,                                                                                                                  
            “Gimana, le?”                                                                                                                                     Panji diam.                                                                                                                                                “Mak Ni?”                                                                                                                                           Mak Ni hanya menghela nafas.                                                                                                          “Panji?” kataku mengulang.
Dalam ketegaran seorang Muhammad Panji Pamulang, dengan gagah Panji menjawab      ….. pulang! Jawaban yang di luar dugaan. Sebab minggu lalu Panji minta dikemo ….. dan aku sudah membawanya sampai di RS Bethesda tapi bangsal dan  kamar kemo ternyata kosong untuk 3-4 hari mendatang. Sementara Mak Ni  hanya menghela nafas panjang. Kelihatan tidak setuju dengan keputusan Panji.
            “Mak Ni?”                                                                                                                                           “Kita usaha yang terbaik!”                                                                                                             “Kita usaha yang terbaik itu ….. di rumah bisa?” tanyaku balik pada Mak Ni.                             “ …. Bisa,” jawab Mak Ni berat.                                                                                                         “Berarti kita pulang!” tegasku karena sebuah keyakinan akan pertolongan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang yang mau berdoa kepadaNYA.



            Sabtu pagi, 14 September 2013
            Aku merasa  payah dengan apa yang diujikankan Allah…..aku …..  dan aku melihat raga Panji sudah lelah menahan sakit. Sementara bebayunya tak kuasa menahan rasa, sebagian tubuh Panji telah mati. Panji hanya  tidur. Mak Ni di pojok joglo sebelah selatan kudekati. Kupeluk dia untuk memberi semangat, karena apa yang akan aku katakan nanti,
            “Mak Ni,” kataku setelah melepasnya,
            “Menurut firasatku … dan ini pengalaman kita ketika ngramut simbok di Jakarta,” aku menghela nafas,
            “Waktu itu simbok minta pulang …. Itu bermakna dua. Simbok minta pulang ke rumah berarti simbok sembuh  atau simbok minta ‘pulang’ berarti simbok meninggal  . Akhirnya simbok meninggal di Jakarta … Lalu ketika kita menjenguk  Mas Gangsar di Bethesda, dia juga minta pulang. Namun keluarganya  kurang nggraito …. Maunya jika pulang sudah sembuh. ….. Akhirnya Mas Gangsar meninggal di rumah sakit,”
            Mak Ni menangis, sudah menduga apa yang akan kukatakan,
            “Kemarin …..Panji kita bawa ke rumah sakit, Panji minta pulang padahal seminggu yang lalu Panji minta dikemo. Kita akan menuruti permintaan Panji tetapi Panji memilih pulang. Menurutku ini bermakna dua. Kalau Panji akan sembuh maka cepat sembuh tetapi jika Panji akan dipanggil juga akan cepat. … Mak Ni, kamu harus siap,”
            “Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap … menurutku Panji harus diberi tahu. Aku lebih senang Panji siap mati dari  pada siap sembuh …. mumpung masih ada waktu  untuk Panji.”
            “Ya, pak,” jawab Mak Ni berat.
             Kembali kupeluk Mak Ni seolah kami telah kehilangan Panji.. Lalu mendekat ke dipan Panji yang ada di dekat soko guru  …
            “Le …,” tumpah air mataku.
            Hampir sepuluh menit  aku menangis karena sedih dan sukur,… sedih karena Panji sakit dan sukur …. Walaupun Panji menderika  kanker tulang sedemikian parah  dia tetep PD, tetap semangat ibadah,  pantang menyerah.
 Panji tetap manja!
            “Le, suka atau tidak  suka, hal ini harus bapak omongkan ke kamu …. Ketika kamu minta pulang, menurut pengalaman bapak itu artinya dua. Kalau tidak mari yo mati..”
            “Ya pak,” jawabnya enteng. Tidak ada beban sedikitpun di raut itu.
            “Kamu harus selalu berdoa dan yakin sembuh, tetapi kamu juga siap mati…ya   le?”
            “Panji siap, pak.”
            Ada perasaan lega ….
            “Alhamdulillah! … itu lho le kelebihanmu … kalau nenek dulu begitu bangun tidur langsung dzikir, istigfar ….” Aku memberi isarat dengan menekuk jari, menirukan neneknya dulu,
            “Sementara kamu tidak le. Matamu tetap jelalatan. Tetapi Allah memberi kekuatan dan kesabaran atas penyakitmu. …. Ada orang yang diberi derajat surga tinggi tetapi pengamalannya tidak cukup untuk derajat  itu. Sehingga  … Allah memberi sakit, tapi Allah juga memberi kesabaran sampai derajat surganya tercapai,”   jelasku memberi semangat,
            “Semoga salah satu orang itu …. kamu le.”
            “Pak, mamak … apa aku ini anak yang soleh?”
            Mak Ni menagis.
            “Ya. Bapak dan mamak menyaksikan kalau kamu anak yang soleh,” kata Mak Ni,
            “Mamak betul-betul bersukur di karunia anak kamu,” Mak Ni memeluk kepala Panji  …..

 Di saat terakhirnya Panji sempat menayakan  kalau orang  mati itu masih punya dosa. Aku jawab … ya orang itu akan disiksa dulu didalam neraka sampai dosanya habis dan baru akan dimasukkan kedalam surga. 
Panji menyatakan taubat setelahnya.
            Duh le, semoga itu menjadi jalanmu. Kalau diberi kesembuhan semoga cepat dan kalau akan dipanggil juga cepat. Kamu  harus yakin sembuh tetapi kamu juga harus siap mati. Panji Siap … dan .. Alhamdulillah Panji meninggal dalam keadaan khusnul kotimah.
             Sesaat setelah Panji meninggal, …..Mak Ni meminta semua saudara untuk mencium Panji. Dengan  syarat, tanpa tangis dan tanpa air mata, sebagai wujud rasa sayang seluruh keluarga untuk yang terakhir kali. Mak Ni mencium kening Panji, kemudian aku … , lalu  Akyun, terus Intan dan semua  saudara yang menyayangi Panji. Mak Ni menatap sejenak sebelum melepas kepergiannya … dan Klik! Wajah terakhir Panji terabadikan di HP mbak Eli. 

Lalu … aku sungguh kehilangan Panji.

Rabu, 31 Desember 2014

TUGAS MENGARANG BAHASA INDONESIA SOFTSKILL DOSEN SEPITRI DARUYANI

LINGKUNGAN HIDUP 
   Lingkungan hdup yg shat tentu sngt diperlukan bagi kesehatan kta & keluarga. Alam dan lingkungan ini ada untk dgnakan semaksimal mungkin kesejahteraan kita bersama. kita bsa mmanfaatkan lingkungan untk mnunjang perekonomian kita. pda kesempatan ini kta akn bhas tntang hbungan antra pemnfaatan alam untk kepentingan ekonomi dan keruskan alam yg di timbulkan.
  Tuhan mnciptakan mnusia & alm untk hdp brdmpingan manusia & alm hrs menyatu. tnpa alm yg shat maka mnsia tdk bsa hdup dg baik. kita diberi tuhan alm untk dmnfaatkan sebnyk mungkin bgi kmakmuran kita. kita bisa menggunakan semua smbr dya alm untk kepntingan ekonomi kita.
Namun demikian exploiatsi alm yg berlebihan memberi dampak ngative trhadap alam itu sendiri . hutan gundul, banjir dimna-mna . keruskan dari hutan yang menjadi gundul sama yang di sebut binatang yang seharus ya untuk mencari makan di hutan. lingkungan sdh sngt prah. ini disebabkn krn eksplitasi alm yg berlebihan.Itu untuk lingkungan sekitar kita itu untuk menjadi yang lebih baik itu.





TUGAS BAHASA INDONESIA TENTANG KALIMAT EFEKTIF DOSEN SEPITRI DARUYANI MATA KULIAH SOFTSKILL

Kalimat Efektif dan Ciri – cirinya Kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; Dari segi liuistik kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.


1. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkandaya khayal pada diri pembaca.
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa; Kalusa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan satu klausa atau merupakan gabungan klausa, yang membentuk satuan yang bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dsb; Kontruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan (Harimurti Kridalaksana.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis /pembicara. Kalimat efektif juga merupakan kalimat yang padat, singkat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat.
Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Berikut ini 13 Sebab Ketidakefektifan Kalimat :
1. Kalimat Berstruktur Kompak.
Setiap kalimat minimal terdiri atas unsur pokok dan sebutan (yang menerangkan pokok) atau unsur subjek dan predikat. Kalimat yang baik adalah kalimat yang menggunakan subjek dan predikat secara benar dan kompak. Kekurangkompakan dan ketidakjelasan subjek dapat terjadi jika digunakan kata depan di depan subjek. Misalnya penggunaan dalam, untuk, bagi, di, pada, sebagai, tentang, dan, karena sebelum subjek kalimat tersebut.
Contoh kalimat tidak efektif:
Bagi semua siswa harus memahami uraian berikut ini.
Dalam pembahasan ini menyajikan contoh nyata.
contoh dari uraian di atas adalah di bawah ini.
Kalimat di atas menjadi tidak efektif karena unsurnya tidak lengkap.
 Kalimat Paralel.
Kalimat yang efektif adalah kalimat yang tersusun secara paralel. Keparalelan itu tampak pada jenis kata yang digunakan sebagai suatu yang paralel dengan memiliki unsur atau jenis kata yang sama. Kesalahan dalam menggunakan paralelis kata akan menjadikan kalimat tersebut menjadi tidak efektif.
Contoh kalimat tidak efektif:
Kegiatan akhir dari percobaan itu adalah menyusun laporan, kelengkapan materi yang harus dilampirkan, penggambaran tahap-tahap kegiatan, dan simpulan hasil pengujian.
Ketidakefektifan kalimat tersebut, karena memfaralelkan jenis kata menyusun, dengan kelengkapan, penggambaran, dan simpulan. Kalimat tersebut memfaralelkan “kegiatan” sebagai verba, maka kata lainnya seharusnya menggunakan verba. Misalnya, kata menyusun seharusnya berfaralel dengan melampirkan (materi secara lengkap), menggambarkan (tahap-tahap kegiatan), dan menyimpulkan (hasil pengujian). Bandingkanlah dengan kalimat di bawah ini!
Kegiatan akhir dari percobaan itu adalah menyusun laporan, melampirkan materi secara lengkap, menggambarkan tahap-tahap kegiatan, dan menyimpulkan hasil pengujian.
 Kalimat Hemat.
Kalimat yang efektif harus hemat. Kalimat hemat memiliki ciri kalimat yang menghindari pengulangan subjek, pleonasme, hiponimi, dan penjamakan kata yang sudah bermakna jamak.
Contoh kalimat tidak efektif:
Para menteri serentak berdiri, setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang ke acara itu.
Waktu tempuh yang digunakan hanya selama 45 menit saja untuk sampai ke daerah itu.
Air raksa ini harus dicampur dengan kain warna merah.
Banyak orang-orang yang tidak hadir pada pertemuan yang menghadirkan beberapa tokoh-tokoh terkemuka.
Kalimat pertama kurang efektif karena menggunakan subjek (kata para menteri) dengan subjek kedua (kata mereka). Kalimat kedua menggunakan kata bermakna sama, yaitu kata hanya dan saja. Kalimat ketiga kurang efektif karena menggunakan kata bermakna hiponimi, yaitu kata warna dan merah (merah merupakan salah satu warna, sehingga tidak perlu menggunakan kata warna). Kalimat keempat, menggunakan kata bermakna jamak secara berulang, yaitu kata banyak dan beberapa dengan pengulangan kata yang mengikutinya.
 Kalimat Berpadu.
Kalimat yang berpadu adalah kalimat yang berisi kepaduan pernyataan. Kalimat yang tidak berpadu biasanya terjadi karena salah dalam menggunakan verba (kata kerja) atau preposisi (kata depan) secara tidak tepat.
Contoh kalimat tidak efektif:
Segala usulan yang disampaikan itu kami akan pertimbangkan.
Uraian pada bagian ini akan menyajikan tentang perkembangbiakan pohon aren.
Materi yang sudah diungkapkan daripada pembicara awal akan dibahas kembali pada pertemuan yang akan datang.
Penggunaan kata akan yang menyelip di antara subjek dengan predikat pada kalimat pertama menjadikan kalimat tersebut kurang padu. Demikian pula penggunaan kata tentang dan daripada setelah verba menjadikan kalimat tersebut kurang padu
5. Kalimat Logis.
Kalimat yang logis adalah kalimat yang dapat diterima oleh akal atau pikiran sehat. Biasanya ketidaklogisan kalimat terjadi karena pemilihan kata atau ejaan yang salah.
Contoh kalimat tidak efektif:
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran acara ini.
Untuk mempersingkat waktu, marilah kita bersama-sama mulai mengerjakan tugas tersebut.
Mayat wanita yang ditemukan di sungai itu sebelumnya sering mondar- mandir di daerah tersebut.
Pada kalimat pertama terkadung makna bahwa yang berbahagia adalah kesempatan, kecuali verbanya diganti dengan membahagiakan. Kalimat kedua memiliki makna yang tidak mungkin waktu dipersingkat, kecuali acara yang dipersingkat atau waktu yang dihemat. Kalimat ketiga menggunakan konstruksi kalimat yang kurang benar sehingga memunculkan makna yang kurang logis dan menakutkan.
6. Kontaminasi ==> merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah
Contoh :
* diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
* memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
* sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
* saling memukul, pukul-memukul saling pukul-memukul (salah)
* Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
7. Pleonasme ==> berlebihan, tumpang tindih
Contoh :
* para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
* para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
* banyak siswa-siswa (banyak siswa)
* saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
* agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
* disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
Tidak Memiliki Subjek.
Contoh :
* Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
* Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
* Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
 Adanya kata depan tidak perlu.
Contoh :
* Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
* Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
* Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
 Salah Nalar.
Contoh :
* waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
* Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
* Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
* Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
* Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
 Kesalahan Pembentukan kata.
Contoh :
* mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
* menyetop seharusnya menstop
* mensoal seharusnya menyoal
* ilmiawan seharusnya ilmuwan
* sejarawan seharusnya ahli sejarah
 Pengaruh bahasa asing.
Contoh :
* Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
* Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)



Jumat, 10 Oktober 2014

Kasus pengunaan bahasa indonesia 




Standarisasi Atau Standardisasi? Kasus ini mirip dengan aktifitas dan aktivitas. Kata asing "standard" kita serap dengan menghilangkan huruf d karena bunyi yang dilambangkan cenderung tidak diucapkan dalam bahasa Indonesia. Jadi, yang benar adalah standar. Kata "standardisation" (Inggris) atau "standardisatie" (Belanda) kita serap menjadi standardisasi. Mengapa huruf d dipertahankan? Bunyi d dapat kita lafalkan sehingga secara keseluruhan lafal dan tulisan standardisasi lebih dekat dengan lafal dan tulisan kata asingnya walau di sana-sini sudah ada penyesuaian. Baik dicatat, dalam hal menyesuaikan tulisan dan lafal kata serapan, apa yang bisa dipertahankan sebaiknya tidak diubah sehingga dapat lebih dekat dengan bentuk aslinya. Hal itu memudahkan penelusuran asal-usul kata. Ganti Untung Baru-baru ini ada berita tentang lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Sebuah stasiun televisi mengatakan bahwa korban lumpur Lapindo menuntut agar ganti untung segera dicairkan. Apa itu ganti untung? Istilah yang lazim kita dengar dan juga kita gunakan adalah ganti rugi. Dalam tata bahasa, ganti rugi disebut kata majemuk. Ada bentuk-bentuk kata majemuk serupa itu, misalnya meja tulis. Yang dimaksud meja tulis adalah meja untuk menulis. Buku gambar adalah buku untuk menggambar. Anak angkat artinya orang (biasanya berusia muda) yang tidak bertalian darah, yang diangkat menjadi anak sendiri. Contoh lain adalah cetak ulang, yang artinya pencetakan ulang. Pada contoh-contoh itu terlihat ada pemendekan bentuk. Menulis menjadi tulis, menggambar menjadi gambar, diangkat menjadi angkat, dan pencetakan menjadi cetak. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada kata ganti rugi, hasil pemendekan dari penggantian kerugian atau sekurang-kurangnya dari ganti kerugian. Jadi, apa yang dimaksud dengan ganti untung pada berita itu? Dengan analogi tersebut, ganti untung dapat ditafsirkan sebagai penggantian keuntungan atau ganti keuntungan. Hal ini tentu saja tidak masuk akal. ("Keuntungan kok diganti!"). Konon yang menciptakan istilah itu bermaksud agar korban seperti warga Porong itu mendapat penggantian yang menguntungkan, bukan yang merugikan. Dengan mengubah ungkapan ganti rugi menjadi ganti untung diharapkan kompensasi yang dimaksudkan menguntungkan pihak korban. Terlepas dari niat baik penulis berita, pengubahan istilah itu jelas mengacaukan makna. Di samping itu, kalau korban manjadi untung, bukankah lalu ada pihak yang merugi? Nah, kalau pihak yang merugi itu adalah pihak yang harus menyediakan dana penggantian, pantas saja kalau mereka menunda-nunda atau enggan melaksanakan. Singkat kata, meniru gaya Tukul, kembali ke ganti rugi! Akibat yang Mengakibatkan Coba perhatikan kutipan ini. "Akibat kebakaran itu mengakibatkan pedagang kehilangan tempat usaha." Hah! Hati-hati menyusun kalimat yang mengandung hubungan kausalitas. Sebetulnya ada cara yang sederhana. Gunakan saja kata hubungan, seperti sebab, karena, akibat, sehingga, dan boleh juga maka, misalnya begini: Persidangan itu ditunda sebab hakimnya sakit; Pertandingan terpaksa dihentikan karena hujan deras; Akibat perbuatannya itu, ia dihukum dua tahun penjara; atau Kasus itu sudah diputuskan secara adil, maka demo tidak perlu lagi. Kata sebab dan akibat juga bisa menjadi dasar kata kerja mengakibatkan dan menyebabkan. Keduanya kurang lebih berarti sama. Contohnya seperti ini. Angin puting beliung itu mengakibatkan kerusakan di desa Sukoharjo, Sleman, Yogyakarta. Kebijakan pemerintah menyebabkan pelaksanaan pemerintahan terus-menerus dipantau dan dikritik rakyat. Lalu bagaimana dengan kalimat yang dikutip tadi? Kacau alias rancu! Sebaiknya kalimat itu berbunyi: "Akibat kebakaran itu para pedagang kehilangan tempat usaha," atau, "Kebakaran itu menyebabkan pedagang kehilangan tempat usaha." Menurut Siapa Mengatakan Apa Ditemukan kalimat seperti ini. "Menurut seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa harga demokrasi memang dapat dianggap mahal." Kalau kita analisis, mana subjek kalimat itu? Seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia? Memang, bagian itulah yang menjadi pokok untuk kata kerja mengatakan. Namun, kalau itu subjeknya, mengapa didahului kata menurut? Apakah kita dapat mengatakan kalimat yang lebih sederhana ini: "Menurut dia mengatakan begitu?" Aneh, bukan? Pemecahan sederhana: buang saja kata menurut sehingga kalimat itu menjadi: "Seorang pakar sosiologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa harga demokrasi memang dapat dianggap mahal."